Tindak Lanjut Program ASTACITA Desa Kutagugung: Inisiasi Sistem Anti-Pungli dan Kolaborasi Multisektor melalui Digital Marketing
untuk Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Desa dari Kehadiran Wisatawan Kutagugung, Karo – Desa Kutagugung, Kecamatan Naman Teran, kini menjadi sorotan publik. Hanya dalam hitungan minggu sejak promosi digital diluncurkan, desa yang sebelumnya sepi tanpa wisatawan mendadak hidup. Warung sederhana ibu-ibu PKK yang dulu tak pernah melayani tamu, kini penuh oleh pengunjung. Unit BUMDes yang sebelumnya tak memiliki aktivitas kini mencatat pemasukan. Dalam waktu kurang dari 30 hari, desa yang dulu berangkat dari nol rupiah kini mampu mencatat perputaran uang saati ni sebesar Rp15 juta. Keberhasilan ini lahir dari program pengabdian masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Program ini dipimpin oleh Samerdanta Sinulingga, S.ST.Par., M.Par., dosen Vokasi Pariwisata USU yang menginisiasi pendekatan baru dengan menggabungkan prinsip anti-pungli, transparansi pengelolaan aset desa, dan strategi digital marketing berbasis Instagram. “Awalnya masyarakat ragu. Tetapi ketika wisatawan pertama benar-benar datang, membe limakanan, dan uang masuk ke kas desa, kepercayaan itu tumbuh. Inilah titik baliknya,” ujar Samerdanta.
Dari Infrastruktur Mandek ke Ekonomi Hidup Sebelumnya, Desa Kutagugung pernah menerima bantuan dari Kementerian Desa berupa kolam renang, pedestrian, dan fasilitas lain. Namun semua itu tidak mampu menggerakkan ekonomi desa. Infrastruktur ada, tetapi keuntungan finansial untuk masyarakat nihil. Program LPPM USU mengubah keadaan tersebut. Dengan pendekatan digital dan kolaborasi multisektor, infrastruktur yang sempat tak produktif kini mulai memberi manfaat nyata bagi warga.
Kolaborasi Multisektor: FOURSETY Dari forum ASTACITA Summit 2025, lahirlah konsep kolaborasi empat pilar: pemerintah, akademisi, masyarakat desa, dan media. Konsep ini kemudian dikenal dengan nama FOURSETY. Kolaborasi ini bukan sekadar jargon, tetapi aksi nyata. Desa Kutagugung menjadi contoh bagaimana kolaborasi pentahelix bisa menghadirkan perubahan: desa punya legitimasi, akademisi memberi pendampingan, media menguatkan publikasi, dan pemerintah hadir memberi dukungan. Menurut Prof. Dr. Rudy Sofyan, SS., M.Hum., Koordinator Program dari USU, Kutagugung kini bukan lagi penonton pariwisata. “Ketika empat unsur bergerak bersama, stigma bisa berubah, ekonomi bisa bergerak. Desa ini bukti bahwa kolaborasi bisa menciptakan perubahan nyata,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Ir. Ar. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D., IAI menambahkan, pendekatan akademis membuat fasilitas bantuan yang semula membingungkan kini bisa diintegrasikan sebagai wisata edukasi. “Kami hadir bukan hanya membangun fisik, tetapi memberi arah agar fasilitas desa menjadi produktif,” tegasnya.
Dukungan Pemerintah Apresiasi tinggi juga datang dari Data Martina Br Ginting, AP., M.Si., Kepala Dinas PMD Kabupaten Karo, mewakili Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG., M.Kes. Ia menilai capaian ini sebagai sejarah baru. “Tak pernah sebelumnya wisatawan hadir dan dikelola langsung oleh desa, BUMDes, PKK, dengan dukungan akademisi dan media. Ini adalah batu pertama. Desa Kutagugung sudah berada di jalur menuju desa percontohan,” ungkapnya. Kepala Desa Kutagugung, Terkelin Sembiring, juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam. “Dulu desa kami hanya penonton. Tidak ada sepeser pun dari wisata yang masuk ke desa. Kini dengan pendampingan USU dan dukungan semua pihak, kami bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya dengan haru.
Selaras dengan SDGs dan ASTACITA Capaian Desa Kutagugung tidak hanya relevan di tingkat lokal. Dari perspektif SDGs, program ini mendukung pengentasan kemiskinan, membuka peluang kerja layak, mengurangi ketimpangan, serta memperkuat kemitraan global. Sementara dari sisi nasional, inisiatif ini sejalan dengan ASTACITA Presiden Republik Indonesia 2024–2029, khususnya membangun dari desa, memperkuat ekonomi kreatif, digitalisasi, serta tata kelola yang bersih dan bebas pungli. Kini, Desa Kutagugung menjadi simbol transformasi. Dari nol, desa ini mampu menunjukkan bahwa dengan kepercayaan, transparansi, dan kolaborasi, masa depan bisa diubah. Dari sekadar desa rintisan, Kutagugung kini siap menjadi desa wisata percontohan di Sumatera Utara, bahkan Indonesia.
Untuk meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Desa dari Kehadiran Wisatawan Kutagugung, Karo – Desa Kutagugung, Kecamatan Naman Teran, kini menjadi sorotan publik. Hanya dalam hitungan minggu sejak promosi digital diluncurkan, desa yang sebelumnya sepi tanpa wisatawan mendadak hidup. Warung sederhana ibu-ibu PKK yang dulu tak pernah melayani tamu, kini penuh oleh pengunjung. Unit BUMDes yang sebelumnya tak memiliki aktivitas kini mencatat pemasukan. Dalam waktu kurang dari 30 hari, desa yang dulu berangkat dari nol rupiah kini mampu mencatat perputaran uang saati ni sebesar Rp15 juta. Keberhasilan ini lahir dari program pengabdian masyarakat Universitas Sumatera Utara (USU) melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Program ini dipimpin oleh Samerdanta Sinulingga, S.ST.Par., M.Par., dosen Vokasi Pariwisata USU yang menginisiasi pendekatan baru dengan menggabungkan prinsip anti-pungli, transparansi pengelolaan aset desa, dan strategi digital marketing berbasis Instagram. “Awalnya masyarakat ragu. Tetapi ketika wisatawan pertama benar-benar datang, membe limakanan, dan uang masuk ke kas desa, kepercayaan itu tumbuh. Inilah titik baliknya,” ujar Samerdanta.
Dari Infrastruktur Mandek ke Ekonomi Hidup Sebelumnya, Desa Kutagugung pernah menerima bantuan dari Kementerian Desa berupa kolam renang, pedestrian, dan fasilitas lain. Namun semua itu tidak mampu menggerakkan ekonomi desa. Infrastruktur ada, tetapi keuntungan finansial untuk masyarakat nihil. Program LPPM USU mengubah keadaan tersebut. Dengan pendekatan digital dan kolaborasi multisektor, infrastruktur yang sempat tak produktif kini mulai memberi manfaat nyata bagi warga.
Kolaborasi Multisektor: FOURSETY Dari forum ASTACITA Summit 2025, lahirlah konsep kolaborasi empat pilar: pemerintah, akademisi, masyarakat desa, dan media. Konsep ini kemudian dikenal dengan nama FOURSETY. Kolaborasi ini bukan sekadar jargon, tetapi aksi nyata. Desa Kutagugung menjadi contoh bagaimana kolaborasi pentahelix bisa menghadirkan perubahan: desa punya legitimasi, akademisi memberi pendampingan, media menguatkan publikasi, dan pemerintah hadir memberi dukungan. Menurut Prof. Dr. Rudy Sofyan, SS., M.Hum., Koordinator Program dari USU, Kutagugung kini bukan lagi penonton pariwisata. “Ketika empat unsur bergerak bersama, stigma bisa berubah, ekonomi bisa bergerak. Desa ini bukti bahwa kolaborasi bisa menciptakan perubahan nyata,” ujarnya. Sementara itu, Prof. Ir. Ar. Nurlisa Ginting, M.Sc., Ph.D., IAI menambahkan, pendekatan akademis membuat fasilitas bantuan yang semula membingungkan kini bisa diintegrasikan sebagai wisata edukasi. “Kami hadir bukan hanya membangun fisik, tetapi memberi arah agar fasilitas desa menjadi produktif,” tegasnya.
Dukungan Pemerintah Apresiasi tinggi juga datang dari Data Martina Br Ginting, AP., M.Si., Kepala Dinas PMD Kabupaten Karo, mewakili Bupati Karo Brigjen Pol (Purn) Dr. dr. Antonius Ginting, Sp.OG., M.Kes. Ia menilai capaian ini sebagai sejarah baru. “Tak pernah sebelumnya wisatawan hadir dan dikelola langsung oleh desa, BUMDes, PKK, dengan dukungan akademisi dan media. Ini adalah batu pertama. Desa Kutagugung sudah berada di jalur menuju desa percontohan,” ungkapnya. Kepala Desa Kutagugung, Terkelin Sembiring, juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam. “Dulu desa kami hanya penonton. Tidak ada sepeser pun dari wisata yang masuk ke desa. Kini dengan pendampingan USU dan dukungan semua pihak, kami bisa berdiri di atas kaki sendiri,” ujarnya dengan haru.
Selaras dengan SDGs dan ASTACITA Capaian Desa Kutagugung tidak hanya relevan di tingkat lokal. Dari perspektif SDGs, program ini mendukung pengentasan kemiskinan, membuka peluang kerja layak, mengurangi ketimpangan, serta memperkuat kemitraan global. Sementara dari sisi nasional, inisiatif ini sejalan dengan ASTACITA Presiden Republik Indonesia 2024–2029, khususnya membangun dari desa, memperkuat ekonomi kreatif, digitalisasi, serta tata kelola yang bersih dan bebas pungli. Kini, Desa Kutagugung menjadi simbol transformasi. Dari nol, desa ini mampu menunjukkan bahwa dengan kepercayaan, transparansi, dan kolaborasi, masa depan bisa diubah. Dari sekadar desa rintisan, Kutagugung kini siap menjadi desa wisata percontohan di Sumatera Utara, bahkan Indonesia.





