Home Budaya Jurnal Internasional tentang Tradisi Lisan

Jurnal Internasional tentang Tradisi Lisan

0

IPMINEWS.CO.ID
PENELITIAN | Tradisi lisan merupakan tradisi budaya yang disampaikan secara lisan dari satu generasi ke generasi lain secara turun-temurun. Pewarisan generasi ke generasi itu biasanya belangsung selama tiga generasi dari kakek-nenek, ke bapak-ibu hingga ke cucu. Bila satu generasi sekitar 20-25 tahun, sesuatu upacara atau kegiatan dianggap sebagai tradisi lisan setelah bertahan anatra 60-75 tahun. Tradisi budaya itu merupakan tradisi yang berhubungan dengan upacara daur hidup atau upacara sistem mata pencaharian yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lain secara lisan. Demikian disampaikan Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. ketika berbincang-bincang dengan IPMINEWS.CO.ID pada hari Kamis (30/09/2021).

Tradisi lisan atau tradisi budaya memiliki makna dan fungsi serta nilai budaya dan norma sosial yang penting untuk kehidupan komunitasnya. Nilai budaya yang baik dan norma sosial yang benar itu merupakan alasan mengapa tradisi lisan atau tradisi budaya itu dapat bertahan lama. Nilai budaya dan norma sosial yang dapat dimanfaatkan secara arif untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sosial untuk menciptakan kedamaian dan meningkatkan kesejahteraan komunitasnya disebut kearifan lokal. Revitalisasi “tradisi budaya” dapat diciptakan menjadi “kreativitas budaya”, yang dapat dilestarikan untuk keperluan pariwisasta atau industri kreatif. Peneliti budaya mesti bisa membedakan tradisi budaya dari kreativitas budaya, ujarnya lebih lanjut.

Dia kemudian mengatakan bahwa tradisi lisan atau tradisi budaya sangat kaya di nusantara ini sehingga penelitian mengenai tradisi lisan atau tradisi budaya sangat menarik baik dilakukan oleh mahasiswa, dosen maupun para peneliti budaya. Hasil-hasil penelitian tentang tradisi lisan atau tradisi budaya itu masih hanya tersimpan di dokumen-dokumen tertulis. Sebagai luaran (output) penelitian, hasil penelitian itu perlu dikomunikasikan dan dipublikasikan di jurnal internasional agar dapat dimengerti dan dipahami orang sehingga dapat dimanfaatkan kemudian dan juga supaya hak cipta luaran penelitian itu dapat terjamin.

Atas dasar itu, Journal of Oral Traditions didirikan dengan harapan dapat menampung hasi-hasil penelitian tradisi lisan atau tradisi budaya. Pengelola jurnal ini sekalgus menyampaikan kepada pembaca berita ini untuk mengirimkan artikel mengenai kebudayaan dengan sistemaka: (1) Title, (2) Abstract, (3) Introduction, (4) Conceptual Frame, (5) Method, (6) Result, (7) Discussion, (8) Conclusion, dan (9) References. Bantuan kolaborasi dalam negeri dan luar negeri sangat penting untuk pengeloaan jurnal ini. Bantuan para kolega yang membaca berita ini sangat penting untuk mengirimkan artikelnya ke jurnal ini walaupun dalam bahasa Indonesia, yang akan diterjemahkan dan diedit oleh pengelola jurnal ini, ujar Profesor Robert Sibarani.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here