IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | Buku “Menjaring Angin” karya Pdt Dr. Darwin Lumbantobing (Ephorus Emeritus HKBP) yang dihasilkannya setelah mengakhiri jabatan sebagai Ephorus HKBP. Peluncuran dan bedah buku ini diadakan pada hari Jumat, 08 Oktober 2021 di Aula Fakultas Kedokteran HKBP Nommensen Medan. Sebelum acara peluncuran dan bedah buku ini, dilakukan ibadah terdahulu yang dihadiri ratusan peserta dengan menerapkan prokes yang ketat. Acara ini dilaksanakan dengan sambutan pembukaan oleh Ketua Panitia Kombes Pol. (Purn) Dr. Maruli Siahaan, S.H., M.H.
Acara bedah buku ini dilaksanakan dengan mengundang Prof. Dr. Robert Sibarani, MS (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara) dimoderatori oleh Pdt. Wilda Simanjuntak, M.Th. Pada acara yang sangat inspiratif ini, penulis buku Pdt. Dr. Darwin Lumbantobing lebih dahulu memaparkan isi dan pesan dari buku tersebut dengan menjelaskan 5 poin yakni: a) Jangan memperluas kandang musang, tetapi lakukanlah memperluas kandang ayam, b) to forgive not to forget, c) blessing in disguise; d) jangan mengerjakan yang sia-sia; e) buku ini sekaligus juga autobiografi penulisnya sampai dengan dengan pengalaman berteologi “memaknai dan hidup bersama Tuhan”.
Mengawali paparannya dalam bedah buku tersebut, Prof. Dr. Robert Sibarani, MS mengutip pendapat Henry Ford, seorang pendiri Perusahaan Ford, yang mengatakan bahwa “The whole secret of a successful life is to find out what is one’s destiny to do, and then do it”, yang berarti bahwa rahasia kehidupan yang berhasil adalah dengan lebih dahulu mengetahui apa yang pantas dilakukan oleh seseorang, barulah dia melakukannya dalam bentuk aksi supaya tidak seperti “menjaring angin” tanpa hasil karya nyata. Berkenaan dengan judul buku itu, sekecil apapun yang layak dilakukan, hal itu akan menjadi karya nyata yang dapat dicatat dan diwariskan kepada generasi muda. Itu jauh lebih bagus daripada “berangan-angan” untuk melakukan yang sangat besar seperti banyaknya “angin”, tetapi tidak bisa melakukan apa-apa bagaikan menjaring angin.
Dalam hal mencari dan menemukan yang layak dilakukan, Prof. Robert Sibarani mengutip seorang filosof pragmatik David Hume yang mengatakan bahwa diperlukan dua pertimbangan yang saling mengisi sebelum melakukan sesuatu, yakni menimbang-nimbang dengan “pikiran” dengan menggunakan kecerdasan intelektual dan menimbang-nimbang dengan “hati” dengan kecerdasan emosional. Kecerdasan intelektual bekerja untuk menghitung-hitung kelayakan melakukan sesuatu agar berhasil, sedangkan kecerdasan emosional bekerja untuk merasakan dan mengevaluasi apakah bagus dan sesuai melakukan hal itu. Pertimbangan melalui mind ‘pikiran’, lalu masuk ke heart ‘hati’ sangat perlu apabila kita hendap melakukan action ‘tindakan’. diskusikan dengan sahabat kita dan yang mendukungnya lalu kita lakukan aksi untuk melakukannya. Dan secara filosofi ada dua pertimbangan dengan mind dan perasaan lalu melakukan action ‘aksi’ agar tidak pekerjaan yang seperti “menjaring angin”.
Buku Bukan Menjaring Angin yang ditulis dengan baik secara naratif dan fenomenologis ini memiliki dua pesan penting untuk diri sendiri, para generasi sekarang, dan generasi muda. Pertama, memberikan catatan yang menyebut dan menjelaskan pekerjaan penting yang telah kita lakukan. Kedua, mengingatkan kita dan memotivasi generasi muda untuk mencatat dan menjelaskan bahwa perlu ada aksi sebagai karya nyata dalam hidup kita untuk kita wariskan kepada generasi selanjutnya. Penulis buku ini mencontohkannya dalam perjalanan dan pergumulan hidupnya yang akan lebih nyata jika diinterpretasi secara fenomenologis.
Dalam paparannya lebih lanjut, Prof. Robert Sibarani mengatakan bahwa ada tiga petuah yang didapatkannya baik dari membaca buku ditambah dari paparan penulisnya pada acara bedah buku itu, yakni “3 kata jangan”, 1) Jangan membalas omongan orang lain ketika kamu sedang marah. Balasan di kala marah bisa mengakibatkan konflik atau sakit hati. 2) Jangan berjanji ketika kamu sedang bahagia. Janji pada masa seperti itu bisa membuat orang lain “tarhirim” atau kecewa karena belum tentu terpenuhi ketika pada masa perasaan normal. 3) Jangan mengambil keputusan ketika kamu sedang merasa sedih. Keputusan seperti itu bisa mencerminkan keputusasaan. Semua tiga jangan tersebut dapat dilakonkan dan “dibungkus” penulisnya dalam buku tesebut, yang dapat diinterpretasi dan dipahami secara fenomenologis.
Prof. Robert Sibarani lebih lanjut mengatakan bahwa buku Bukan Menjaring Angin mengingatkan kita untuk tidak hanya mengtahui sesuatu yang baik (knowing the good) atau hanya mencintai sesuatu yang baik (loving the good), melainkan harus sampai melakukan yang baik (doing the good) sebagaimana yang disampaikan oleh ahli pembentukan karakter Thomas Lickona. Pendapat itu pada hakikatnya sudah diingatkan oleh filosof ternama Aristotels jauh sebelumnya dengan istilah “logos, pathos, dan ethos” dengan modifikasi yang dilakukan oleh para ahli pendidikan dengan istilah “kognitif, afektif, dan psikomotorik”.

Pada akhir paparannya, Prof. Robert Sibarani menyarankan bahwa buku Bukan Menjaring Angin perlu kita baca untuk menemukan sesuatu yang berharga dalam hidup kita. Demikian dituliskan dan disampaikan Prof Robert Sibarani ke IPMINEWS.CO.ID (08/10/2021) setelah acara pemberian ulos oleh panitia dan foto bersama.








