IPMINEWS.CO.ID
PENDIDIKAN | Ensiklopedia Kebudayaan Kawasan Danau Toba ini merupakan karya monumental karena ensiklopedia ini merupakan yang pertama tentang keberagaman kebudayaan (culture diversity) di kawasan Danau Toba dan disusun secara gotong royong oleh 20 orang kontributor tulisan masing-masing 4 [empat] orang dari Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak, Simalungun, dan Toba beserta 7 [tujuh] orang penyunting teks, fotografer profesional, dan tim data. Penyusunan dan penerbitan ensiklopedia 540 halaman dengan cetakan lux dan full color ini didukung dan didanai Balai Pelestarian Nilai Budaya [BPNB] Aceh dengan liputan kerja Provinsi Aceh dan Provinsi Sumatera Utara yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian [LP] USU [Universitas Sumatera Utara] yang melibatkan SDM kontributor dari warga Fakultas Ilmu Budaya USU.
Kawasan Danau Toba adalah kawasan Geopark Kaldera Toba yang telah ditetapkan oleh UNESCO [United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization] sebagai anggota UNESCO Global Geopark pada pertengahan 2020 lalu dengan penekanan pada pentingnya keberagaman budaya (culture diversity) di samping keberagaman hayati [bio-diversity] dan keberagaman kebumian [geo-diversity].
Keberagaman budaya, kekayaan hayati, dan keindahan alam Kawasan Danau Toba yang menyebar diseluruh kabupaten di sekitar Danau Toba menjadi daya tarik Kawasan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas. Ada lima suku yakni Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, dan Angkola-Mandailing yang saling terkait dengan benang merah adat budaya dan falsafah hidup yang “sebagian besar” terangkum dalam ensiklopedia ini. Ada keterhubungan kebudayaan dan falsafah hidup yang sangat jelas dalam ensiklopedia ini sehingga patut menjadi literatur bernilai untuk keberlanjutan kebudayaan yang perlu diwariskan ke generasi mendatang. Kearifan lokal sebagai falsafah hidup tumbuh secara kuat di tengah-tengah suku-suku sebagai warisan yang berlangsung hingga sekarang melalui transformasi budaya dengan mengikuti perkembangan zaman.
Selain keindahan alam yang tergambar dalam sub toponimi termasuk geosite, tradisi budaya yang beragam mulai dari daur hidup [kelahiran, perkawinan, kematian], mata pencaharian [masa menanam, merawat, panen], dan tradisi lisan menjadi keindahan kebudayaan yang tidak ternilai harganya untuk tetap direvitalisasi dan dilestarikan oleh semua puak yang ada di kawasan Danau Toba.
Dengan revitalisasi dan pelestarian itu, tradisi budaya yang kini sebagian sudah tidak dipraktikkan lagi, namun menjadi sebuah sejarah penting untuk tetap dilestarikan melalui transformasi budaya dari tradisi budaya ke arah kreativitas budaya. Harus ada tindakan nyata dengan aksi revitalisasi dan pelestarian budaya agar generasi-generasi ke lima puak di kawasan Danau Toba tetap bisa memahami, mencintai, dan mempraktikkan kekayaan budayanya yang sangat indah di masa yang akan datang. Ensiklopedia kebudayaan ini merupakan referensi penting untuk generasi anak-cucu kita di masa mendatang.

Keterangan Foto:
Pemberian Piagam Penghargaan oleh Direktur Perlindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek [Irini Dewi Wati, S.S., M.SP.] kepada Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. [Ketua Lembaga Penelitian USU].
Sebagai kurator, konsultan, dan editor ensiklopedia ini, saya mengucapkan terima kasih kepada semua tim yang terlibat atas kesolidan kerja dengan keterbatasan waktu. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada BPNB khususnya Ibu Irini Dewi Wati, S.S., M.SP., selaku Direktur Perlindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kemendikbudristek, yang sebelumnya Kepala BPNB dan Plt. Kepala BPN atas dukungannya yang luar biasa. Penghargaan yang tinggi atas kerja sama yang dahsyat dari semua tim yang membuahkan karya monumental ini. Semoga kerja sama ini tetap terjalin di antara kita semua sebagai peneliti budaya, penulis, fotografer, pemerhati budaya yang konsern kepada Kawasan Danau Toba.
Oleh karena keterbatasan waktu, ensiklopedia ini belumlah sempurna penyajiannya dan karena keterbatasan ruang, ensiklopedia ini belumlah menyajikan semua item kebudayaan di lima suku sehingga belum dapat memuaskan semua harapan pembaca. Namun demikian, kami mengharapkan masukan dari pembaca untuk penyempurnaan ensiklopedia ini pada edisi berikutnya.
Selamat membaca.
Editor: Prof. Dr. Robert Sibarani
[Ketua Lembaga Penelitian USU; Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Sumut]









