Beranda Budaya Hari Kedua Kongres I Kebudayaan Batak Toba Dinilai Monumental

Hari Kedua Kongres I Kebudayaan Batak Toba Dinilai Monumental

9
0

IPMINEWS.CO.ID
BUDAYA | Hari kedua Kongres I Kebudayaan Batak Toba dimulai dengan penampilan Sarimpang Art dari IAKN Tarutung yang menampilkan lagu-lagu ciptaan legendaris Nahum Situmorang. Mendengar lagu-lagu Nahum Situmorang yang diselingi dengan video taping dari diaspora global seperti dari Pelita Napitupulu sebagai Ketua Parsadaan Bangso Batak [PBB] di New York Amerika Serikat, Yetty Aritonang sebagai admin Batak Diaspora Network Global [BDNG] Perancis, Jaurat Sianturi sebagai Ketua Ikatan Masyarakat Batak California [IMABAC] dari Amerika Serikat, Tiur Munthe sebagai Ketua Bonapasogit Sydney Australia, Haposan Situmorang sebagai Vice-President IDN-Global Ethnic Batak Oman Mid-Est, Raymond Sihombing sebagai perwakilan Batak di Russia, Herberth Sinaga sebagai Ketua Komunitas Batak Bonapasogit United Kingdom [Inggris], dan Prof. Dr.Tosiakhi Kimura sebagai guru besar dari Universitas Tohoku Jepang.

Mereka semua mendukung pelaksanaan kongres pertama yang monumental ini dengan harapan agar luaran kongres diselesaikan sebagai bahan untuk menghasilkan buku ajar kepada generasi muda Batak Toba baik di Kawasan Danau Toba maupun di diaspora global. “Panitia mengucapkan terima kasih atas dukungan diaspora global”, demikian disampaikan Ketua Panitia Kongres I Kebudayaan Batak Toba, Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., kepada IPMINEWS.CO.ID Senin [24/10/2022].

Sebelum masuk pada agenda materi kongres di hari kedua, Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU Dr. T. Thyrhaya Zein, MA memberikan sambutan mewakili Rektor pada hari kedua kongres. Dekan FIB USU datang bersama Wakil Dekan 3 dan Sekretaris S2 Pengkajian dan Penciptaan Seni FIB USU untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Kongres I Kebudayaan Batak Toba yang dilaksanakan oleh Program Studi Sastra Batak, FIB USU. Dekan FIB memberikan apresiasi yang tinggi terhadap pelaksanaan kongres ini karena dapat meningkatkan Indikator Kinerja Utama [IKU], yang pada gilirannya juga akan meningkatkan pemeringkatan USU. Dekan FIB juga memaparkan keberadaan berbagai program studi yang ada di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Tayang bincang [talk show] dengan topik “Peran Generasi Muda dan Perempuan dalam Upaya Pelestarian dan Revitalisasi Bahasa dan Budaya Batak Toba” menghadirkan pemuda Batak Toba dan perempuan berkarya dan sekaligus ibu rumah tangga dengan moderator dari etnik Jawa, tetapi mahir berbahasa Batak Toba Ir. Sukirman. Dari kalangan pemuda tampil Lambok F.Sihombing sebagai Ketua Umum Pemuda Batak Bersatu [PBB] dan Daniel Limbong Ketua Badan Eksekutif Mahasiwa [BEM] IT Del. Dengan gaya yang santai, tetapi berisi, sang moderator menanyakan Lambok F. Sihombing tentang pandangannya untuk merevitalisasi dan melestarikan bahasa Batak Toba di kalangan pemuda Batak Toba.

Dia mengatakan bahwa pemuda Batak Toba perlu memupuk rasa bangga, dan jangan merasa malu, berbahasa Batak Toba sesama orang Batak Toba karena bahasa Batak Toba itu adalah identitas budaya dan dapat bermanfaat untuk menjaga dan meneruskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Dia mencontohkan kesadaran akan pentingnya identitas budaya Batak dalam dirinya dengan kebanggaan memiliki nama dari bahasa Batak Toba /Lambok/ apalagi nama itu bermakna bagus yakni ‘lembut’.

Dia berpesan kepada generasi muda, “Jangan malu berbahasa Batak Toba bagi yang fasih berbahasa Batak Toba di mana pun berada dan belajarlah bahasa Batak Toba bagi yang belum fasih berbahasa Batak Toba. Semoga luaran kongres ini menjadi jalan keluarnya karena itulah cara merevitalisasi dan melestarikan bahasa Batak Toba.” Lebih lanjut, Lambok F. Sihombing berjanji akan berusaha untuk mengambil bagian dalam pembuatan Film Dokumenter Benda-Benda Warisan Budaya Batak dengan melibatkan network-nya baik di internal Pemuda Batak Bersatu maupun dengan tokoh-tokoh Batak lainnya.

Di sisi lain, Daniel Limbong sebagai Ketua BEM IT Del kelahiran Medan mengakui bahwa dia tidak fasih berbahasa Batak Toba, tetapi akan terus belajar dan memiliki harapan karena orang Batak pasti terjun ke pelaksanaan adat-istiadat setelah menikah. Dia melihat orang-orang Batak Toba yang lebih tua darinya mampu berbahasa Batak Toba karena terlibat ke adat-istiadat setelah menikah.

“Sebagai generasi muda yang berkecimpung di bidang teknologi informasi, dia Bersama teman-teman, kami juga telah memulai perancangan leksikografi (perkamusan) bahasa Batak Toba. Kami juga bersedia membantu untuk membantu luaran kongres ini bila ada yang dapat dibantu dengan aplikasi berbasis teknologi informasi”, sambung Daniel Limbong.

Sebelum menyampaikan kesempatan kepada para narasumber dari kalangan perempuan, moderator hebat, Ir. Sukirman, menyampaikan bahwa perlu didengar lesson learned “pelajaran” yang dilakukan oleh para perempuan berkarir itu di kota-kota besar dalam mewariskan bahasa Batak Toba ke generasi muda dan memanfaatkan bahasa Batak Toba sebagai alat komunikasi dalam interaksi sesama orang Batak Toba terutama di lingkungan keluarga atau rumah tangga sendiri.

Dalam hal itu, Alma Naibaho, seorang perancang [designer] berbasis kreativitas budaya ulos dari Jakarta megungkapkan bahwa inti yang dilakukannya baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai designer adalah “Kita cintailah produk budaya kita sendiri sebagai identitas budaya kita. Bahasa Batak Toba dan ulos merupakan identitas budaya saya, maka saya berusaha berbahasa Batak Toba di rumah dan ke teman-teman orang Batak Toba. Sebagai designer, saya merancang gaun yang bagus berbasis kreativitas ulos”, ungkap Alma Naibaho.

“Saya berusaha berkomunikasi dengan anak-anak dalam berbahasa Batak Toba dan mengajak mereka mencintai budaya Batak Toba meskipun tidak mudah karena tantangan zaman”, demikian diungkapkan Tiomora Sitanggang, S.T., M.M. Tantangan tersebut dikarenakan anak-anak kita Batak Toba berinteraksi dengan anak-anak dari suku lain di kota-kota besar. Tiomora Sitanggang mengharapkan luaran kongres ini dapat menjadi sumber acuan untuk penyusunan buku ajar untuk kelas 1 sampai kelas 12 di pendidikan formal, nonformal, dan informal, untuk bisa diajarkan di anak-anak diaspora nasional maupun diaspora global dengan pengantar buku ajar dalam bahasa Inggris.

Dengan suara yang lantang dan jelas, Dr. Ir. Erika Pardede mengatakan bahwa revitalisasi dan pelestarian bahasa dan kebudayaan harus dimulai dari diri sendiri, baru pada anak-anak di rumah, dan kemudian berinteraksi ke luar rumah. Dia mengatakan bahwa mesti ada konsistensi dari ucapan perlunya berbahasa Batak Toba, perilaku atas kecintaan terhadap bahasa Batak Toba, dan tindakan berbahasa Batak Toba termasuk dalam kebudayaan Batak Toba.

Panel diskusi dengan topik Penyusunan Tata Bahasa Batak Toba menghadirkan pembicara Dr. Tuntun Sinaga, M.Hum dari Universitas Lampung dengan penanggap Dr. Charles Butar-Butar, M.Pd., dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara [UMSU]. Sesi panel diskusi ini dimoderatori oleh Putra Rajagukguk, S.S., M.Hum., mahasiswa program doktor di UNPAD Bandung.

Pembicara mengungkapkan identitas budaya dalam tata bahasa Batak Toba terutama dari segi pola urutan kalimat Bahasa Batak Toba. Pola VOS yang dimiliki bahasa Batak Toba dengan karakteristik pemarah topiknya sangat berbeda dengan pola kalimat bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Batak Toba dengan struktur bahasa Bahasa Batak Toba merupakan kearifan penguatan identitas kebudayaan, tetapi perlu terbuka mengadaptasi unsur-unsur lingual dari bahasa lain dengan tetap tunduk pada tata bahasa Batak Toba. Penanggap mengeksplisitkan bahwa karena perkembangan zaman dalam interaksi global, tata bahasa Batak Toba telah diperkaya sehingga bahasa Batak Toba telah memiliki fonem /c/ dan /k/ terutama untuk kata-kata yang diadopsi dari bahasa lain seperti /cek/ dan /komputer/.

Panel diskusi dengan topik utama Pedoman Ejaan Bahasa Batak Toba disampaikan oleh pembicara Dr. Berman Hutahaean, M.Pd dari Universitas Katolik St. Thomas dengan penanggap Dr. Tomson Sibarani, M.Hum., dari Balai Bahasa Sumatera Utara. Panel diskusi ini dimoderatori oleh Dr. Oktobertua Aritonang, M.Pd., dari IAKN Tarutung. Baik narasumber maupun penanggap berfokus pada draft yang diberikan oleh panitia kongres dengan mengkritisi untuk melihat kelebihan dan terutama kekurangan draft yang telah ada. Panel diskusi Pedoman Ejaan Bahasa Batak Toba ini pada akhirnya dapat menyepakati beberapa hal tentang penulisan bahasa Batak Toba yang selama ini memiliki varian seperti derivasi /boru/ ‘putri’ + /-hu/ ‘-ku’, yakni /buruhu/, /borunghu/, /borungku/ atau /borukku/. Penulisan kata ulang dan bentuk ulang bahasa Batak Toba juga dibicarakan pada sesi diskusi panel ini.

Peserta kongres telah secara aktif berpartisipasi memberikan masukan pada Pedoman Ejaan Batak Toba dan Tata Bahasa Batak Toba, namun untuk mendapat masukan dari berbagai pihak telah dan akan terus dikirim google drive berikut ini https://drive.google.com/drive/folders/1jAOcZMqH1nWsT3gOZCnDqOTaC7OSJyBi?usp=sharing yang berisi draft Pedoman Ejaan Bahasa Batak Toba, Pedoman Penulisan Aksara Batak Toba, dan Tata Bahasa Batak Toba. Panitia mengundang masukan dari setiap orang melalui google drive tersebut.

Sebelum tampil dua orang generasi muda peneliti asing, tampil atraksi Marmonsak Nagasaribu yang menampilkan atraksi pencak silat dengan koordinasi Drs. Manguji Nababan. Atraksi pencak silat dengan iringan musik tradisional Batak Toba sangat memukau peserta terutama yang datang dari Jakarta yang sejak hari pertama kongres aktif berpartisipasi seperti Ketua Umum Batak Center Ir. Sintong Tampubolon bersama Wakil Sekretaris Freddy F. M. Pandiangan. Peserta dari Jakarta seperti Martin Sirait, Hojot Marluga, dan lain-lain juga hadir sejak hari pertama kongres.

Di akhir hari kedua Kongres I Kebudayaan Batak Toba, tampil Dr. Guseppina Monaco alumni University of Naples’L’Orietale Italy dengan topik Benda-Benda Budaya di Eropa. Giusy, panggilan akrabnya, menyampaikan bahwa benda-benda budaya Batak tersebar di Eropa termasuk di museum yang ada di Italy. Sambil menyampaikan isinya, Giusy menyatakan bahwa dia menulis disertasi dengan mengkaji naskah yang ada di Italy. Roberta Zollo, calon doktor di Universitas Hamburg Jerman, menyampaikan penyajian dengan topik “Potensi Kajian Kebudayaan di Eropa” dengan mengatakan bahwa para mahasiswa dan peneliti dari Sastra Batak FIB USU perlu melirik kolaborasi dengan para peneliti di Eropa dalam rangka revitalisasi dan pelestarian kebudayaan Batak Toba.

Ketika ditanya oleh peserta melalui moderator Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum mengenai latar belakang ketertarikan Guseppina Monaco dan Roberta Zollo pada kebudayaan Batak, kedua generasi baru peneliti kebudayaan Batak dari Eropa itu sama-sama menjawab, “Semua bermula dari kedatangan Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., ke universitas kami di Napoli Itali sebagai visiting professor”, ujarnya.

“Dia [Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.-red] memberikan kuliah mengenai masyarakat di Kawasan Danau Toba dan Kebudayaannya. Kuliahnya ternyata berhasil menarik perhatian kami untuk datang dan melakukan penelitian di Kawasan Danau Toba”, demikian disampaikan Guisy.

Hal yang sama disampaikan oleh Roberta Zollo, “Karena kuliah Amang Prof. Robert Sibarani itulah yang membuat kami datang dan melakukan penelitian di Kawasan Danau Toba”, katanya.

“Kami ada 5 orang yang tertarik dan datang ke Kawasan Danau Toba karena kuliah Amang itu [Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.-red], tetapi saya dan Guisy yang lebih lama tinggal dan lebih mendalami kebudayaan Batak. Itulah sebabnya kami berdua selalu mengatakan boru Sibarani, yang suatu saat akan dibuat acaranya, acara mangain marga”, demikian Roberta Zollo. [RED 01]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here