IPMINEWS.CO.ID
BUDAYA | Setelah pembukaan pelaksanaan Kongres I Kebudayaan Batak Toba oleh Menko Marves Luhut Binsar, acara dilanjutkan dengan menggelar talk show dan atraksi budaya. Beberapa materi yang disajikan oleh para pembicara, baik dalam bentuk tayang bincang (talk show) maupun dalam bentuk diskusi panel. Ada tiga sesi yang langsung berkaitan dengan tema dan topik utama kongres pada hari pertama setelah selesai pembukaan kongres dan berbagai atraksi budaya.

Amatan IPMINEWS.CO.ID pada pelaksanaan kongres hari pertama, tayang bincang dengan topik “Dukungan Lintas Agama untuk Pelestarian dan Revitalisasi Bahasa dan Budaya Batak Toba” dengan narasumber Pdt. Dr. Hulman Sinaga, M.Th. dari HKBP, Ir. Monang Naipospos dari Parmalim, H. Imran Napitupulu sebagai Ketum Punguan Batak Muslim Toba, dan Timothy Sabar Pasaribu, S.Th dari Geraja Pentakosta Tabernakel. Dengan dimoderatori oleh Rektor Institut Agama Kristen Negeri Tarutung, Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian.
Mereka bersepakat menyatakan bahwa bahasa Batak Toba sangat penting digunakan untuk mendukung kelembagaan keagamaan yang dipimpinnya baik sebagai media transfer keagamaan di kelembagaan maupun sebagai media komunikasi antarumat di lingkungan lembaga keagamaan mereka. Perbedaan keyakinan dapat disatukan dalam afiliasi kebahasaan dan kebudayaan Batak Toba.
Pada kongres tersebut digelar juga diskusi panel dengan topik “Pembuatan Film Dokumenter Benda-Benda Budaya Batak sebagai Warisan Budaya Batak”, menampilkan pembicara Ketua Persahabatan Indonesia-Jerman Karl Mertes melalui zoom dengan penanggap Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum. Melalui moderator Dr. Dahlena Sari Marbun, panel diskusi ini menyebutkan betapa banyak benda-benda budaya Batak yang luar biasa bagusnya tersimpan di museum-museum luar negeri. Benda-benda budaya di luar negeri itu perlu diinventarisasi bersama dengan benda-benda budaya Batak Toba yang ada di dalam negeri yang kemudian dibuat film dokumenter yang menarik untuk ditonton oleh generasi muda sebagai warisan budaya leluhur. Baik untuk inventarisasi maupun untuk pembuatan film dokumenter diperlukan tim peneliti dan tim pembuat film. Panitia telah membuat perencanaan untuk kedua kegiatan tersebut temasuk tim di luar negeri. Dalam kesempatan itu, ditawarkan kepada semua pihak yang berminat dan mau berkontribusi untuk dapat membuat film dokumenter benda-benda budaya tersebut.
Selanjutnya ada juga digelar diskusi panel dengan topik “Pedoman Aksara Batak Toba” menampilkan pembicara Prof. Dr. Uli Kozok melalui zoom dengan penanggap Drs. Manguji Nababan dari Pusat Kajian Universitas HKBP Nomensen dan Harapan Sibarani, S.S sebagai Kepala Bidang di Dinas Pariwisata Humbang Hasundutan dengan moderator Ketua Program Studi Sastra Batak Drs. Jekmen Sinulingga, M.Hum. Dengan tetap mempertahankan keaslian aksara Batak seperti yang ada dalam naskah-naskah pustaha laklak ‘buku kulit kayu’, aksara Batak Toba dapat juga dipergunakan untuk menulis bahasa selain bahasa Indonesia dan menuliskan kata-kata yang diadopsi dari bahasa Indonesia dan bahasa asing sehingga perlu memperkaya aksara Batak Toba dengan menggunakan induk surat dan anak surat dari aksara Batak lainnya seperti menuliskan /ca/ dan /ka/. Pembakuan induk surat dan anak surat dari berbagai varian dilakukan dengan mengacu pada induk surat dan anak surat yang ada pada pustaka laklak.

Pengelolaan tayang bincang dan diskusi panel dilaksanaan dengan konsep marsirimpa ‘bergotong royong’, yakni semua peserta diberi kesempatan untuk bersama-sama memberikan masukan yang konstruktif dengan diarahkan oleh moderator, dicatat oleh notulen, dan dirumuskan oleh tim perumus. Karena masukan-masukan diharapkan dating dari seluruh masyarakat Batak baik yang tinggal di Kawasan Danau Toba maupun di diaspora Batak Toba global di seluruh dunia, maka telah dan akan dikirimkan melalui google drive berikut ini https://drive.google.com/drive/folders/1jAOcZMqH1nWsT3gOZCnDqOTaC7OSJyBi?usp=sharing yang berisi draft Pedoman Ejaan Bahasa Batak Toba, Pedoman Penulisan Aksara Batak Toba, dan Tata Bahasa Batak Toba. Masukan-masukan yang akan diberikan melalui google drive tersebut.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, di sela-sela pembukaan dan sesi materi di hari pertama tampil berbagai atraksi budaya untuk memeriahkan pelaksanaan kongres seperti Kolaborasi Seni-Budaya binaan Disbudparsu, atraksi marmonsak oleh Sanggar Seni Mata Guru Roha Sisean Silangit binaan Marnala Situmorang, Pantun Nusantara dari Tanah Melayu binaan Prof. Dr. dr. Umar Zein, Sarimpang Art dari IAKN Tarutung yang sejak awal berpartisipasi menghibur, dan Atraksi Budaya Sihali Aek dengan koreofrager Perri Sagala, S.Pd, M.Sn dari Desa Tipang binaan Universitas Sumatera Utara dengan ketua Prof. Dr. Robert Sibarani, MS..
Semua atraksi dan penampilan mereka tampil memukau para peserta kongres sehingga betah duduk berpartisipasi untuk mengikuti kongres dengan jumlah peserta yang dibatasi masuk ke ruangan, yakni 350 orang, tetapi cukup representatif. Para pengunjung yang bukan peserta kongres dipersilahkan melihat pameran di lingkungan TB Silalahi Center dengan jumlah sekitar 3000 orang sejak hari pertama hingga hari ketiga, demikian disampaikan oleh Prof. Dr. Robert Sibarani, MS, Ketua Panitia Kongres I Kebudayaan Batak Toba. [RED 01]









