IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | “Tugu Raja Sibarani merupakan tonggak sejarah sebagai tohang ni harbangan ‘pintu gerbang’ bagi seluruh marga Sibarani (anak, boru, bere/ibebere) untuk marsirimpa ‘bergotong royong’ membangun bersama melalui potensi yang dimikiki dalam menggapai kemajuan masa depan. Dengan kekuatan yang ada hanya dari 783 oang (termasuk ada kumpulan) terkumpul uang sebesar Rp 1.961.412.861,00, hanya dalam waktu 11 bulan (01 September 2023-13 Juli 2024) sehingga tugu yang telah bertahun-tahun mangkrak pembangunannya dapat diselesaikan dengan bagus bahkan masih bersisa Rp 5.982.061,00. Karena biaya yang diperlukan berjumlah Rp 1. 955.430.800.00. Bahkan, bukan hanya Tugu Raja Sibarani yang selesai dibangun, pelataran, halaman, dan akses jalan pun dibangun dengan baik sehingga bangunan tugu itu terlihat berdiri megah dan berwibawa. Sisa uang tersebut kemudian dipergunakan untuk keperluan pembersihan, gembok, kandang kawat pembatas sementara, dan lain-lain untuk perawatan sementara. Bisa kita bayangkan jika semua keturunan Marga Sibarani marsirimpa ‘bergotong royong’, pasti lebih hebat lagi yang dapat dibangun, demikian disampaikan Ketua Pembangunan Penyelesaian Tugu Raja Sibarani, Prof. Dr. Robert Sibarani, MS kepada IPMINEWS.CO.ID Jum’at [2/8/2024].
Ketika tim redaksi melanjutkan bertanya karena merasa penasaran bagaimana panitia pembangunan bisa mengumpulkan dana yang sebegitu besar dalam waktu singkat dan dapat pula menggunakan dana seperti itu untuk penyelesaian tugu yang begitu megah sepertinya tugu marga termegah di Kawasan Kaldera Toba dan halaman tugu beserta akses jalan ke tugu yang dulunya seperti bukit, Ketua Lembaga Penelitian USU ini dengan singkat berkata, “We need trust and commitment” ‘Kita membutuhkan kepercayaan dan komitmen’. Kepercayaan itu dimulai dari pekerjaan awal dengan menyebutkan bahwa semua uang yang terkumpul harus digunakan untuk bahan bangunan dan uang tukang; tidak satu rupiah pun uang itu digunakan untuk yang lain-lain, tidak boleh untuk ongkos panitia, tidak boleh untuk uang makan dan minum. Itu kita lakukan dan saya beri tahu ke semua Panitia Pembangunan Pennyelesaian Tugu Sibaran. Komitmen dimulai dari awal bahwa harus dikerjakan dengan cara yang tepat dan selesai pada waktu yang nibuhul ‘direncanakan’. Komitmen itu dilakukan sehingga selesai di minggu pertama bulan Juli 2024 sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya”, demikian penjelasan Ketua Pembangunan Penyelesaian Tugu Raja Sibarani, Prof. Dr. Robert Sibarani, MS.

Tim redaksi sebagai genereasi muda sangat kagum terhadap kearifan lokal yang diwariskan dosen dan peneliti senior USU yang pernah menjadi peneliti berpengaruh dunia 2023 versi Standford University ini sehingga melanjutkan bertanya mengapa dia menerapakan kearifan trust and commitment ini dalam Pembangunan Tugu Raja Sibarani, dia dengan keyakinan penuh berkata, “Keyakinan dan komitmen itu harus saya jalankan karena ada 2 petuah leluhur orang Batak Toba yang berkata, “Petuah pertama, Dengke ni sabulan, tu tonggina tu tabona; manang ise si ose padan, tu ripurna tu magona ‘siapa yang mengingkar janji, hidupnya akan hancur’. Petuah kedua, manang ise mambahen riperipe (gabe) pangumpolan, tu ripurna tu magona ‘barangsiapa mengambil milik bersama menjadi milik pribadi, hidupnya akan hancur”. Saya sangat yakin akan kedua petuah atau kearifan leluhur itu sehingga ketika saya menerima sebagai Ketua Pembangunan untuk menyelesaikan tugu leluhur Raja Sibarani, itu adalah janji yang harus saya tuntaskan dan komitmen yang harus saya pegang teguh bahwa saya dan tim tidak boleh menggunakan uang riperipe ‘umum’ untuk makan, minum, dan lain-lain, tetapi semua harus untuk bahan bangungan dan jasa tukang. Generasi muda harus paham ini karena siapa yang melanggar petuah atau kearifan leluhur itu, cepat atau lambat akan diterimanya akibatnya. Sudah banyak contoh pengalaman hidup orang seperti itu. Akan tetapi, orang yang dapat memedomani itu dalam hidupnya, dia akan mendapat berkat melimpah dari Tuhan. Puji Tuhan, ketika janji itu kami tambortambori ‘jaga’ selama 11 bulan, banyak berkat Tuhan mengalir kepada saya sekeluarga, demikian juga kepada semua tim yang turut menjaga kepercayaan dengan memberikan hatinya untuk penyelesaian tugu tersebut. Itu perlu diwarisi oleh generasi muda, “demikian disampaikan Ketua Pembangunan Penyelesaiai Tugu Raja Sibarani dengan bersemangat seperti mengajar mahasiswa doktornya.

Hasil konfirmasi tim redaksi melalui telepon dengan Ketua Peresmian Tugu Raja Sibarani, Drs. Laurensus Sibarani, M.Si, “Tugu Raja Sibarani telah selesai dibangun pada tanggal 6 Juli 2024. Begitu bangunan telah mendekati selesai total, semua natuatua marga Sibarani di Bona Pasogit Toba terutama tempat tinggal marga Sibarani, yakni di Desa Sibarani Nasampulu-Namungkup, Desa Sibarani Sitangkola, Desa Ujung Tanduk, Desa Natolutali, dan Desa Parparean berdatangan dan berkumpul, baik melalui Kepala Desa dan Sekdes maupun tetua adat di Desa-Desa tersebut menetapkan bentuk peresmian tugu Raja Sibarani. Dengan waktu yang sangat singkat, hanya 5 minggu persiapan, rapat demi rapat dilakukan sampai pada Tonggo Raja Bius Sipaettua yakni Pangulu Ponggok (Hutahaean, Hutajulu, Aruan), Sipartano Naiborngin (Sibarani dan Sibuea), dan Puraja Laguboti (Hutapean dan Pangaribuan). Sebagai catatan, 6 marga keturunan Sipaettua itu telah berdiri tugu mereka sebelumnya. Tentu berpedoman pada pepatah molo sanduduk dangkana, sanduduk ma nang rantingna, raja adat Sibuealah yang menjadi panuturi ‘juru bicara’ ditiroi ‘dinasehati’ sude raja bius Sipaettua dan Hulahula Sirait. Keputusannya, meresmikan tugu di Bonapasogit Toba bermakna ulaon adat ‘pesta adat’ “mamestahon tugu dohot panangkok saringsaring” seperti yang kita lihat acara demi acara pada tanggal 12-13 Juli 2024 yang lalu. Hari pertama adalah menggali tulang-belulang dan menaikkan ke tugu sesuai adat yang berlaku dengan dipimpin dan ditampin oleh Ketua Sirait sedunia beserta rombongannya serta menerima kedatangan boru Togatorop dan Siagian dengan masing-masing membawa kerbau dan tumpak ‘sumbangan’. Hari kedua menerima kedatangan hulahula Sirait yang berjumlah 650 orang dan hulahula partalitali bonang Pardede yang berjumlah 260 orang. Sepanjang yang saya lihat, saya sudah berumur lebih dari 60 tahun dan tinggal di Toba selama ini, belum pernah saya lihat pesta tugu semeriah itu”, demikian diungkapkan Drs. Laurensus Sibarani, M.Si, yang pernah menjadi beberapa kali camat dan kepala dinas di Kabupaten Toba, Kabupaten Samosir, dan Humbang Hasundutan ini.
Ketika tim redaksi mengejar makna peresmian tugu bagi orang Batak Toba karena kami ingin tahu arti peresmian tugu karena kami pikir seperti meresmikan bendungan, gedung sekolah minggu, bangunan sekolah, dan lain-lain dengan membubuhkan tanda tangan dan pengguntingan pita, dengan lugas Ketua Panitia Peresmian ini menjawab, “Bagi orang yang tidak tahu adat-istiadat, mungkin begitu pikirannya, ditunggu-tunggu pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti, dipikirnya sama seperti peresmian gedung atau tugu dalam pengertian bahasa Indonesia. Namun, bagi yang tahu adat-istiadat Mamestahon Tugu itu diputuskan dan dilakukan oleh Tonggo Bius, bukan oleh perseorangan. Itulah keputusan adat yang merupakan pekerjaan riperipe ‘umum’ sehingga siapapun tidak boleh memaksakan kehendak pribadinya, tidak bisa dibuat pangumpolan ai manang ise mambaen riperipe (gabe) pangumpolan, tu ripurna tu magona, setiap orang harus sadar itu”, sambung Drs. Laurensius Sibarani, M.Si.




Tim redaksi juga menghubungi Bendahara, Armida Sibarani, SH. M.Si. bagaimana dia bisa menata keuangan untuk pembangunan penyelesaian tugu dan peresmian, “Dari awal kami seluruh panitia telah bertekad untuk merekapitulasi semua uang yang terkirim dengan baik sehingga dibuat khusus rekening Pembangunan Tugu Raja Sibarani di Bank Mandiri agar tidak boleh diambil satu orang dan mesti dikonfirmasi oleh pihak bank ke penanda tangan buku bank pada waktu penarikan uang. Uang yang telah terkumpul pun digunakan semuanya untuk bahan bangunan dan uang tukang. Agak lebih mudah sistem pengumpulan uang sekarang karena uang langsung dikirim penyumbang ke rekening dan bukti pengirimannya diposting ke grup WA (Whatsap) penyumbang yang dibuat panitia. Kami yakin bahwa siapa yang memberikan kebaikan dengan ketulusan hatinya untuk pembangunan tugu leluhurnya, pasti akan mendapat berkat dari Tuhan”, imbuhnya di akhir pembicaraan.
Di akhir tulisan ini, kami tampilkan juga pernyataaan Jonner Sibarani (Bapak Holmes), “Sebagai Formatur Parsadaan Sibarani, kami sangat puas dengan pekerjaan Panitia Pebangunan Tugu Raja Sibarani yang dapat diselesaikan dengan cepat dan sesuai dengan rencana meskipun memakan dana yang cukup banyak. Mereka tidak hanya menyelesaikan badan tugu, tetapi pelataran dengan pagar yang kokoh, halaman yang luas, dan jalan masuk yang bagus. Demikian juga keberhasilan pekerjaan Panitia Peresmian Tugu yang dihadiri oleh lebih dari 3000 (tiga ribu) orang dengan lengkap unsur Dalihan Natolu. Apresiasi yang tinggi kepada mereka. Kita percaya bahwa Tuhan akan melimpahkan berkatnya kepada semua orang yang sepenuh hati berpartisipasi untuk menjadikan selesainya Tugu Raja Sibarani”, demikian disampaikannya dengan penuh harapan.
Horas Tondi Madingin, Pir Todi Matogu.
Horas…Horas…Horas!









