IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | Asosiasi Tradisi Lisan [ATL] Wilayah Sumatra Utara pada program awal tahun mengadakan kegiatan bedah buku “Serumpun Pantun Melayu” yang ditulis ulang oleh Dr. Shafwan Hadi Umry. Dalam buku yang berisikan 3500 pantun Melayu itu, Shafwan memaparkan awal sejarah pantun Melayu pada abad 14 dan tersebar di wilayah Nusantara [Sumatra, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina dan Thailand Selatan].

Pantun sebagai seni bertutur orang Melayu bukan saja dipercakapkan di kalangan rakyat sebagai alat berkomunikasi tetapi juga dipakai dalam ragam kerukunan dan kesantunan bahasa di kalangan Kesultanan Melayu. Sultan Banten Raden Patah pernah berkirim surat kepada Sultan Melaka ketika abad 1511 M. “Portugis meruntuhkan kekuasaan Raja Melaka. Kalau roboh Kota Melaka/ Papan Jawa saya dirikan/ Kalau sudah begitu dikata/ Badan dan nyawa menanggungkan”.
Acara bedah buku dan sekaligus rapat awal tahun 2024 dihadiri oleh Pengurus ATL Wilayah Sumatera Utara. Ketua ATL Sumut, Prof Robert Sibarani, mengucapkan terima kasih pada Dr. Shafwan Hadi Umry karena bersedia hadir pada pertemuan awal tahun ATL ini sebagai pembicara tunggal. Pada kesempatan itu, Ketua ATL Sumut menyampaikan salam Tradisi Lisan dari Ketua Umum ATL, Dr. Pudentia MPSS dengan pesan agar semakin memajukan ATL Sumut melalui kajian-kajian tradisi lisan di Sumatera Utara.
Acara bedah buku itu dihadiri para dosen dan pemerhati pantun di antaranya Prof. Tengku Silvana Sinar [USU], Prof. Robert Sibarani [USU], Prof Ichwan Azhari [Ketua Pusat Kajian Sejarah Unimed], Dr. Yessi Octavianna [UHN], Dr. Hiace Vega Fernandus [UDA], Dr. Charles Silalahi, Harkiman Racheman, MA, dan Nurhayati Purba, MA [UMI], Dr. Efri Elias Simatupang [BRIN], Dr. Dahlena Sari Marbun [UISU], Dr. Charles Butar-butar[UMSU]. Dr. Yusni Khairul Amri [UMSU], Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum [BPODT], Dra. Deby Panjaitan [Pengelola Kaldera Toba UNESCO] serta mahasiswa S3 dan peminat pantun Melayu.

Dalam makalah singkat yang bertajuk Pantun Melayu Dalam Panggung UNESCO [Kerarifan Lokal dan Kesantunan Tekstual], Shafwan yang juga anggota ATL Sumut itu menyimpulkan bahwa pantun yang telah diakui Badan Dunia UNESCO (17 Desember 2020) sebagai warisan dunia tak benda dapat juga merupakan “benteng literasi Melayu yang menyimpan sejumlah pesan kearifan”. Pesan tekstual dalam bentuk “akal dan basa” atau “rasio dan rasa” tentang pesan kemanusiaan, kealaman dan ketuhanan dalan memelihara karakter manusia yang baik dan bijaksana. Kekuatan berita pikiran dalam pantun yang tersimpan dalam sampiran selalu dipagari dengan budi bahasa dalam isi pantun.Seperti ungkapan Melayu “Lubuk Akal Tepian Budi”.
Acara bedah buku pada 29 Januari 2024 di Restoran & Café Kaldera Toba [R&C KT] Jalan Ayahanda 143 B Medan itu juga menghasilkan sejumlah usul agar pantun dapat dijadikan iklan wisata untuk mengundang wisatawan dalam negeri dan manca negara [terutama negara tetangga ASEAN] untuk datang menyaksikan sejumlah pertunjukan tradisi budaya di Kawasan Danau Toba. ATL akan menciptakan dan membukukan pantun-pantun berbahasa Melayu/Indonesia dengan topik pelestarian Danau Toba. Program ini menjadi salah satu program ATL Sumut bekerja sama dengan Badan Pengelola Danau Toba [BPODT] dan Badan Pengelola Kaldera Toba UNESCO. [INR-03]








