IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | Tim redaksi sengaja mengangkat berita yang langsung bersumber dari orang yang menyaksikan dan terlibat langsung dari awal rencana penyelesaian Tugu Raja Sibarani hingga selesai, bahkan telah diresmikan seminngu setelah tugu itu selesai dibanngun. Pengalaman empiris ini perlu sebagai lesson learned “pelajaran yang diperoleh” untuk dapat dipraktikkan pada penyelesaian masalah di masa mendatang. Kali ini ini kami menurunkan berita dari Ompu Andika Sibarani (Anna Elfrida Siahaan, SH), yang pernah menjadi Kepala Desa Sibarani Nasampulu-Namungkup selama 2 periode, yakni periode 1992-2000 dan periode 2007-2013.

Ketika tim redaksi bertanya bagaimana perasaannya setelah tugu Raja Sibarani itu berdiri kokoh, megah, dan sudah diresmikan, dengan wajah gembira dia berkata, “Terima kasih kepada Tuhan dan terima kasih kepada semua keturuan Raja Sibarani, pekerjaan utama kita telah selesai, Tugu Raja Sibarani yang kita dambakan itu telah berdiri kokoh dan megah di bulan Juli tahun 2024 ini. Kita patut berbangga diri, tapi tidak perlu sombong, melihat megahnya tugu Raja Sibarani, leluhur semua marga Sibarani. Mari kita lestarikan dengan cara melindungi, merawat, dan memanfaatkannya untuk kedamaian dan kesejahteraan generasi muda Sibarani. Tugu ini menjadi tonggak sejarah sebagai wadah kita dapat bersatu padu membangun dan memberi perhatian atas berdirinya tugu yang megah ini. Saya sangat yakin bahwa ini merupakan tanda suka cita yang akan melimpah kepada seluruh keturunan Raja Sibarani karena itu bagian dari menghormati orang tua, menghormati leluhur. Semua berperan walaupun ada hanya sebatas doa, ada yang hanya mampu memberi sedikit, tapi ada juga yang mampu memberi banyak sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.
Semoga semua keturuan Raja Sibarani bergembira dan bersuka cita atas berdirinya tugu Raja Sibarani yang megah itu agar suka cita melimpah kepadanya dan keturunannya di masa medatang. Hanya seminggu setelah selasai dibangun pada tanggal 06 Juli 2024, langsung pula diresmikan dengan adat Tonggo Bius Sipaettua pada tanggal 12-13 Juli 2024, sebuah peresmian tertinggi adat Batak Toba dengan nama Mamestahon Tugu dohot Panangkok Saringsaring…..eh perlu dicatat, bukan gunting pita dan penandatanganan parasasti ya seperti pekerjaan yang tidak tahu adat ya, tidak boleh begitu. Ini ulaon adat dengan keterlibatan tonggo bius Sipaettua yang terdiri atas 7 marga dan dihadiri oleh 600-orang hulahula Sirait dan 250-an orang hulahula partalitali bonang Pardede serta rombongan boru bermarga Siagian dan Togatorop. Karena Sibarani menjadi tuan rumah, anggidoli Sibuea menjadi panuturi “juru bicara atau juru atur” sebagaimana tatanan adat yang berlaku. Luar biasa, gaung acaranya menggelegar ke mana-mana karena dihadiri 3000-an orang. Menurut kesaksian orang, pesta terbaik di Kawasan Danau Toba di akhir dekade ini. Semua yang menyaksiakan memuji dan mengatakan Sibarani ternyata hebat. Padahal, persiapan pesta tugu ini dilakukan dalam waktu yang singkat, hanya 5 minggu dengan berbagai rintangan”, demikian disampaikan mantan Kepala Desa Sibarani Nasampulu-Namungkup ini.
Dia kemudian melanjutkan penjelasannya dengan mengajak semua keturunan Raja Sibarani untuk bersyukur, “Jadi bersyukurlah kita sebagai marga Sibarani dan boru/bere/ibebere karena masih dibolehkan Tuhan menikmati itu semua, berdiri kokoh Tugu Raja Sibarani dan dapat diresmikan dengan baik. Semua itu atas kemurahan Tuhan, bukan karena kekuatan kita, atau karena banyak uang kita. Jadi kita tak perlu menyombongkan diri. Jangan mengatakan, itu karena aku, karena kami, karena ketua pembina, pembina apa, tidak ada uang dia sepeser pun untuk penyelesaian tugu ini….Tidak ada itu, tidak ada Porsib yang berperan menyelesaikan pembagunan tugu ini. Dari awal pun ini karena pasada tahi “penyamaan tekad” melalui nota kesepatakan untuk memulai penyelesaian pembangunan dan mengukuhkan Panitia Pembangunan. Saya sendiri yang menjamini Ketua Pembangunan ketika rapat di rumah hela saya Ir. Maruli Sinaga/Armida br Sibarani waktu itu. Jadi jangan setelah selesai semua merasa dia yang paling berjasa.
Semua jelas tertera yang ikut berpartisipasi dan saya tahu semua orang yang datang ke lapangan ketika pengerjaan penyelesaian tugu. Akan tetapi, semua itu adalah berkat anugrah Tuhan. Kalau karena kekuatan, kenapa bukan dari dulu selesai berdiri tugu itu, padahal banyak orang berada marga Sibarani. Kenapa bisa mangkrak sampai memakan waktu 6 tahun, dan baru di tangan panitia sekarang baru siap? Bukan tidak banyak Sibarani yang punya uang, yang membuat mangkrak itu banya uang, tapi itulah hati dan kemampuannya. Tuhan menguji kita, ketika tidak ada damai, dia membiarkan tidak selesai, tetapi setelah ada damai pada panitia yang sekarang ini, Tuhan mengizinkan kita untuk menyelesaikannya melalui tangan-tangan orang tulus, yang memberikan dirinya secara tulus untuk menyelesaikannya. Ingat itu, setelah ada DAMAI. Maka, marilah kita berdamai, berdamai dengan diri sendiri dan berdamai dengan sasama, jangan saling menyombongkan diri dengan keakuannya. Ingat kalian, gempa bisa meluluhlantakkan bangunan bertingkat modern hanya dalam sekejap di bebagai tempat.
Hanya sekejap mata, harta kita itu bisa hangus, bila tuhan berkehendak. Jadi, berdamailah, bermaaf-maafanlah, bergandengan tanganlah supaya Tuhan menambah berkat berkelimpahan untuk marga Sibarani. Marsada ma hita Sibarani ‘Bersarulah kita Sibarani”. Jangan ada lagi ego apalagi “hotel”, akronim dari hosom ‘dengki’, teal ’sombong’, elat ‘iri’, dan late ‘cemburu’ atas keberhasilan penyelesaian tugu ini. Hal ini saya katakan karena saya melihat sendiri hal itu di sebagian kecil marga Sibarani yang tinggal di kota besar. Masih banyak tugas-tugas kita demi kemajuan generasi penerus Sibarani. Apapun katanya, tugu Raja Sibarani telah selesai dan berdiri megah, yang telah digagas dan dicita-citakan marga Sibarani sejak tahun 1930-an. Tugu ini adalah pintu gerbang masa depan yang cerah bagi marga Sibarani. Semoga nanti akan didirikan Yayasan Raja Sibarani sebagai tugu hidup untuk menjadi solusi bagi putra putri Sibarani yang terkendala pendidikan akibat ketiadaan dana. Kita harus ingat bahwa orang juga tidak menghargai kita jika kita saling berkonflik. Orang yang selalu membuat kegaduhan juga akan rendah martabatnya di depan orang lain. Damai itu indah. Perumpamaan ini perlu dihayati agar terjaga kedamaian, (1) “Purpar pande dorpi laho tu dimposna; sip parmihimmihim laho manegai ‘Betapapun ributnya tukang kayu, tapi membuat rapi’. (2) Gala-gala sitelluk telluk mardaguldagul; molo adong angka na masiteburi Tuhanta ma na mangapulapul ‘Jika ada yang kurang, Tuhanlah yang mengampuni’. (3) Boras di hadanghadangan, boras na niduda di huta; horas ma angka na di pangarantoan songoni nang na tinggal di huta ‘selamat sentosa yang di perantauan begitu juga yang tinggal di kampung’, kata Ompu Andika Sibarani br Siahaan ini.
Di akhir penjelasannya, Ompu Andika Sibarani br Siahaan mengucapkan terima kasih kepada tim, “Saya mengucapkan terima kasih dan salam hormat saya yang tulus terhadap seluruh tim yang solid untuk penyelesaian pembangunan tugu ini yang memakan biaya cukup besar ini. Salam hormat saya kepada Ananda Ketua Formateur PORSIB Jonner Sibarani (Bapak Holmes) yang walaupun tinggal di Bandung, tapi tetap memberi semangat di dalam pengumpulan dana dan tetap memantau perkembangan pembangunan tugu; kepada pahompu saya Professor Robert Sibarani (Bapa Eko/Ompu Lamro) sebagai Ketua Pembangunan yang dengan selalu fous pada sasaran penyelesaian tugu, berusaha semaksimal mungkin mengumpulkan dana, turun langsung mengawasi perkembangan pembangunan tugu ini sejak diberi wewenang sejak tanggal 01 September 2023 melalui nota kesepakatan tetua adat marga Sibarani; kepada hela ‘menantu’ saya Ir Maruli Sinaga yang tanpa pamrih dan tanpa gaji tiap hari datang mengawasi pekerja serta memfasilitasi kedatangan material yang dibutuhkan; kepada boru ‘putri’ saya Armida Sibarani, SH, M.Si sebagai bendahara yang dengan sigap selalu mengusahakan dana dengan mangelek ‘membujuk’ hulahulanya Sibarani supaya segera berpartisipasi; juga kepada pahompu ‘cucu’ saya Drs Laurencus Sibarani, M.Si (A. Kristofel) sebagai Ketua Peresmian Tugu, yang walaupun melalui banyak hujatan, tetapi sukses melaksanakan pesta adat mamestahon tugu & panangkok saringsaring yang demikian agung dan meriah di tgl 12-13 Juli 2024; dan tidak lupa juga salam cinta saya kepada ananda Ir Happy Liston Sibarani sebagai arsitek bangunan megah ini tanpa dibayar satu rupiah pun Karena pengakuannya rezekinya bertambah lancar sejak dia menyumbang ilmunya demi keindahan tugu ini; juga kepada anak saya Pangeran Sibarani dan Kajuni Sibarani yang selalu mengawasi pekerjaan tukang.
Dan yang paling saya banggakan dan salam hormat saya buat Ananda Tahan Sibarani (Op. Catherine) dari Papua yang digelar si Raja minyak. Beliau memberi perhatian penuh atas pembangunan tugu ini supaya bisa indah dan megah. Harus diakui bahwa di antara para penyumpang, biaya penyelesaian tugu, sumbangannyalah yang paling banyak bersama cucu saya Raja Sibarani (Bapak Sihol, Papua). Jauhnya kediamannya di Papua tidak menghalanginya memesan bahan langsung dari Jakarta bila tidak ada di bonapasogit dan beberapa kali datang langsung memantau pembangunan penyelesaian tugu. Selaku orang tua sebagai penasihat dan sekretaris Peresmian Tugu sangat bangga dan terharu atas tim yang sangat solid dan kompak ni. Kalian telah menyelamatkan wajah kami dan mengobati rasa malu kami yang di Bonapasigot karena bertahun-tahun, 6 tahun lamanya, kami semua dipermalukan orang yang tidak bertanggung jawab karena selalu ada pertanyaan kenapa kerangka tugu itu dibiarkan begitu. Panjang umurlah kalian, semakin murah rezeki, dan selalu diberkati Tuhan”, demikian luapan kata hati Anna Elfrida Siahaan, SH mengakhiri penjelasannya kepada tim redaksi.
Tim redaksi kemudian mengakhiri wawancara ini dengan menyimpulkan bahwa fokus pada tujuan, kedamaian hati, kekompakan tim, dan kesetiakawanan merupakan modal keberhasilan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda.
Horas Tondi Madingin, Pir Todi Matogu.
Horas…Horas…Horas!







