IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | Setelah banyak orang mengetahui keberhasilan penyelesaian Pembangunan Tugu Raja Sibarani yang sangat megah di Kawasan Danau Toba dan menyaksikan langsung peresmian tugu yang sangat ramai melalui berbagai media sosial, pihak redaksi masih menurunkan berita berharga sebagai lesson learned untuk kemajuan masyarakat di Kawasan Danau Toba. Menurut banyak orang yang menghubungi tim redaksi, tugu itu paling megah sekarang ini di Kawasan Danau Toba dan Peresmiannya pun luar biasa karena tidak asal-asalan seperti gunting pita dan penandatangan parasasti, tetapi betul-betul secara adat dengan Ulaon MamestahonTugu dan Panangkok Saringsaring melalui Tonggo Bius Sipaettua. Sudah lama tonggo bius tidak lagi dapat disaksikan karena tonggo bius memang biasanya ada pada pesta tugu, horja turun, itu pun hanya ada di bonapasogit. Pesta tugu tidak mungkin di parserahan kecuali “tugu” yang dalam bahasa Indonesia, tidak sama dengan tugu marga. Hanya orang yang tahu adat-istiadat Batak Tobalah yang memahami arti mamestahon tugu ”meresmikan tugu” yang termasuk di dalamnya Panangkok Saringsaring (tu Batu Na Pir) pada masyarakat Batak Toba.
Tim rekdaksi berusaha mendapat informasi kepada berbagai orang yang berpartisipasi aktif sebagai pelaksana langsung untuk pembangun Tugu Raja Sibarani ini. Pada artikel ini, tim redaksi mewawancarai bendahara Pembangunan dan Peresmian Tugu, Armida Sibarani, SH, M.Si. Ibu ini sangat bersahabat untuk memberikan banyak informasi. Dia mengatakan begini, “Kami, saya bersama suami Ir. Maruli Sinaga, sebagai boru dohot hela Sibarani, sangat mendukung rencana yang baik hulahula kami. Bukan hanya mengerjakannya sebagai bendahara, melainkan juga mengikuti seluruh proses pembangunan hingga peresmian Tugu, dari awal hingga akir. Setiap jam kami pantau, saya beruntung bahwa suami saya Ir. Maruli Sinaga, terlibat aktif dan pergi mengecek ke lokasi pembangunan tugu 3 kali 1 hari selama penbanungan mulai awal November 2023 hingga selesai awal Juli 2024. Saya memesan dan mengecek bahan bangunan yang masuk termasuk harganya dengan baik. Itu semua kami kerjakan dengan keikhlasan hati dan biaya sendiri, tanpa mengharapkan jasa”, demikian awal pembicaraan dengan Bu Armida br Sibarani.
Ada satu pelajaran berharga yang perlu diwariskan melalui artikel ini kepada generasi muda, yakni jika ingin berhasil, orang harus bekerja ikhlas tanpa mengharapkan jasa. Lebih lanjut, Bu Armida Sibarani menceritakan latar belakang mengapa ada usaha melanjutkan penyelesaian Pembangunan Tugu Raja Sibarani yang telah mangkrak selama bertahun-tahun itu. Kami bertanya latar belakang kenapa dilanjutkan penyelesaian tugu Raja Sibarani, apa ada orang, kelompok atau organisasi yang menyuruh menyelesaukannya? Dengan lugas dan tegas, dia menjawab, “Tidak ada, …..saya tahu semua, tidak ada orang, kempopok atau organisasi yang menyuruh, tapi murni karena ingin menegakkan kepala seluruh marga Sibarani termasuk boru/bere/ibebere yang merasa malu karena pembangunan mangkrak selama bertahun-tahun apalagi hanya tugu Sibarani waktu itu yang belum ada dari 7 keturunan Sipaettua. Masih lebih bagus kian jika tidak dimulai daripada dimulai tapi, mangkrak. Supaya semua tahu, begini latar belakangnya, pertemuan awal membahas rencana melanjutkan pembangunan Tugu Raja Sibarani ini dibahas di rumah kami ketika saat hendak mengadakan partangianan “syukuran” atas selesainya renovasi simin ‘pusara’ leluhur kami Raja Banggua Sibarani, cucu Raja Sibarani di Huta Sitapitapi Desa Sibarani Nasampulu-Namungkup, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba sekitar minggu ke-3 Agustus 2023. Malam sebelum syukuran itu, hulahula kami, Prof. Dr. Robert Sibaran, MS sebagai ketua renovasi makam Puraja Banggua Sibarani bersama dengan hulahula yang lain berkomunikasi by phone dengan salah seorang orang tua kami bernama Tahan Sibarani (Ompu Cathrine, Papua) dan mengutarakan rencana melanjutkan penyelesaian Tugu Raja Sibarani. Dengan senang hati, beliau sangat setuju dan langsung menyebut jumlah rupiah yang sangat besar sebagai dukungan awalnya termasuk digaransinya anak abangnya Raja Sibarani (Bapak Sihol, Papua) yang pasti ikut membantu secara finasial. Bapak Tahan Sibarani (Ompu Cathrine, Papua) ini bukan hanya membantu secara finansial, tetapi juga secara moril dengan datang langsung ke lokasi tugu semasa pembangunan penyelesaian Tugu Raja Sibarani. Dukungan inilah menjadi modal pertama hulahula kami sehingga dengan semangat persaudaraan yang kokoh dan tekad yang bulat. Pada tanggal 01 September 2023 telah dibuat pengumpulan dana dari orang yang bermarga Sibarani termasuk boru, bere/ibebere. Dilanjutkanlah pelaksanaan Acara Pasada Tahi “menyatukan tekad” pada 14 Oktober 2023, dihadiri oleh seluruh Perwakilan Pomparan Raja Sibarani terutama yang di bona pasogit bersama dari perantauan untuk menyepakati melanjutkan Pembanguan Tugu Raja Sibarani yang dituangkan dan ditantangani bersama dalam Nota Kesepakatan.”


Bu Armida kemudian melanjutkan penjelasannya, “Setelah acara ini, dibukalah Rekening atas nama Pembagunan Tugu Raja Sibarani yang setiap penarikan uang harus seizin Ketua Pembangunan. Uang yang telah terkumpul mulai 1 September 2023 dipindahkan ke rekening Pembangunan Tugu. Demikian seterusnya berdatangan dukungan materi dari Sibarani, boru, bere/ibebere. Dengan kerja sama dan komunikasi yang baik serta semangat dan keyakinan, berjalanlah pembangunan ini dengan berbagai pengalaman indah di dalamnya. Terpujilah Tuhan, atas berkat-Nya dengan dukungan doa dan materi seluruh Pomparan Raja Sibarani (yang berpartisipasi), telah berdiri kokoh dan megah Tugu Raja Sibarani dan telah diresmikan dengan penuh suka cita dan melaksanakannya sesuai dengan tatanan acara Adat Batak Toba yang berlaku di Bonapasogit Toba, bukan ala adat orang lain. Pertanyaan saya, adakah orang, kelompok atau organisasi yang merasa berjasa “menyuruh, memberi mandat atau memerintah” untuk melakukan itu? Saya selaku boru mengatakan, marilah kita jujur, bertanya pada kata hati kita masing-maing. Mohonlah jangan saling menyinggung dan menyakiti hati sesama saudara, jangan ada kecemburuan apalagi kebencian, sebaliknya mari bangga atas kebersamaan ini, tanpa memberi pujian untuk pribadi-pribadi. Tuhan maha tahu semua pekerjaan kita dan akan mendapat berkat Tuhan dari semua kebaikan kita. Penyelesaian pembangunan tugu yang pengumpulan dana dimulai sejak 1 September 2023 dan pekerjaan bangunan yang dimulai sejak tanggal 03 November 2023 merupakan pekerjaan tim baik panitia maupun orang yang menyumbang uangnya khususnya 783 orang/kelompok sesuai dengan yang ada dalam daftar. Mari kita kembali ke tujuan utama didirikannya Tugu Raja Sibarani ini, yaitu menjadi “Tugu Parsadaan” yang akan menyatukan seluruh Pomparan Raja Sibarani hingga ke generasi yang akan datang. Tugu sebagai “Simbol Penghormatan” dan kebanggaan kepada Leluhur Sibarani. Tugu sebagai “Pintu Gerbang”, penyemangat bagi seluruh generasi untuk semakin kompak, saling tolong-menolong menuju masa depan yang semakin baik. Kita sudah meresmikannya bersama dengan meriah dan penuh suka cita, kita makan bersama, manortor bersama, dan menyanyikan Lagu Mars Sibarani bersama bahkan berfoto-foto bersama sebagai tanda kebahadiaan kita. Begitu indah dan cerannya hari peresmian itu, di Jumat-Sabtu (12-13 Juli 2024), akan begitulah masa depan anak-anak kita.”, imbuh Bu Armida Sibarani, SH, M.Si.





Di akhir wawancara, Bu Armida dengan mata berkaca-kaca mengucapkan terima kasih kepada semua yang turut memberikan materi dan dukungan, “Secara khusus kepada paraman ‘keponakan’ kami, Prof. Dr. Robert Sibarani sebagai Ketua Pembangunan Penyelesaian Tugu, secara tidak langsung melalui kegiatan ini, beliau telah mengajarkan berbagai hal berharga bagi kami tentang penerapan kearifan lokal seperti ruhut-ruhut partuturon ‘tatanan kekerabatan’, tentang marsirimpa ‘bergotong royong”, dan tentangkesetiakawanan. Penulis buku Kearifan Lokal (2012) dan Marsimpa: Gotong Royong pada Masyarakat Batak Toba (2016) ini menerapkan konsep ilmunya melalui kami yang bekerja di Lapangan. Demikian juga Ito Drs. Laurencius Sibarani M.Si (ketua Peresmian), ito Happy Sibarani ST (arsitek), ito Pangeran Sibarani, ST (kordinator tim teknis), ito Soltan Sibarani (kepdes), dan inanguda Dra.AE.br Siahaan (sekretaris peresmian), ito Kajuni Sibarani (anggota pengawas lapangan), ito Drs. Juangga Sibarani (anggota tim teknis), dan ito Ir. Robert Santo Sibarani (anggota tim teknis) yang selalu bersama dalam satu tim dalam pelaksanaan penyelesaian Pembangunan Tugu Raja Sibarani hingga peresmian Tugu dengan bebagai suka dan duka. Tak jarang kami saling protes, berdebat, mungkin marah, tapi semuanya itu demi kebaikan dan menjadi pengalaman berharga bagi kami masing-masing”, demikian akhir penjelasannya.
Tim redaksi kemudian mengakhiri wawancara ini dengan menyimpulkan bahwa kearifan lokal bekereja ikhlas dengan kerja sama dan kearifan lokal keterpercayaan dengan kejujuran merupakan modal sosial untuk berhasil menyelesaikan pekerjaan.
Horas Tondi Madingin, Pir Todi Matogu.
Horas…Horas…Horas!








