IPMINEWS.CO.ID
PENELITIAN | Jurnal sangat penting “didirikan” di dalam negeri sebagai wadah untuk menampung hasil penelitian para peneliti Indonesia, baik para mahasiswa, dosen atau peneliti di lembaga-lembaga penelitian. Jurnal kita mesti lebih diprioritaskan menampungnya agar hasil-hasil pikiran berbasis penelitian itu tidak lebih dahulu dikirim ke luar negeri melalui jurnal-jurnal mereka, tetapi dimasukkan dulu ke jurnal-jurnal kita, kemudian dibaca oleh masyarakat dunia melalui jurnal kita. Atas dasar itu, perbanyakan jurnal internasional di dalam negeri perlu dilakukan, tentu juga harus menjaga kualitasnya, demikian disampaikan Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S. ketika berbincang-bincang dengan IPMINEWS.CO.ID pada hari Selasa (28/09/2021).
Lebih lanjut, Profesor Robert Sibarani mengatakan, paling tidak ada dua hal penting yang menguntungkan apabila kita membangun jurnal internasional di dalam negeri. Pertama, ide original dari hasil penelitian anak bangsa tidak dicuri oleh pihak-pihak luar sehingga dapat dipergunakan oleh bangsa sendiri. Kedua, uang kita tidak pergi ke luar negeri karena para peneliti mengirimkan artikel dengan berbayar, tetapi uang kita berputar di dalam negeri. Memang, setiap jurnal harus dikelola dan dikawal dengan baik sehingga mendapat pengakuan baik melalui akreditasi nasional seperti SINTA RISTEKDIKTI maupun pengakuan internasional Scopus, Thomson Reuters, dan lain-lain pengindeks internasional. Di tengah perdebatan mengenai jurnal internasional seperti Scopus, kita harus mengakui, suka atau tidak suka, bahwa akademisi, peneliti, dan universitas membutuhkan Scopus untuk pemeringkatan baik pemeringkatan indeks maupun pemeringkatan universitas atau institusi. Perdebatan itu akan “berkurang” apabila jurnal kita dalam negeri diperbanyak yang terindeks Scopus.
Di sisi lain, lanjutnya, bidang ilmu sosial-budaya atau sosial-humaniora lebih banyak mengalami kendala daripada bidang ilmu sains-teknologi karena bidang ilmu sosial-humaniora lebih sulit masuk ke jurnal terindeks Scopus dan jumlah jurnal terindeks Scopus bidang sosial-humaniora sangat terbatas. Dua hal itu mengakibatkan akademisi atau peneliti bidang sosial-humaniora pada umumnya memiliki dokumen dan h-indeks Scopus lebih rendah daripada bidang sains-teknologi, bukan hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.
Atas dasar itu, sejak saya dipercaya oleh Rektor USU sebagai Ketua LP USU (Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara-red), saya berpikir untuk menginisiasi untuk membuat jurnal dengan nama Tradition and Modernity of Humanity, yang sudah terbit perdana volume 1 pada bulan September 2021 ini dan volume 2 akan terbit di Januari 2022. Kita membutuhkan artikel dari berbagai universitas atau institusi, yang menurut aturan paling sedikit enam puluh persen berasal dari luar universitas pemilik jurnal tersebut. Oleh karena itu, bantuan kolaborasi dalam negeri dan luar negeri sangat penting untuk pengelolaan jurnal. Bantuan para kolega yang membaca berita ini sangat penting untuk mengirimkan artikelnya ke jurnal ini dengan sistematika yang biasa ke jurnal internasional, ujar Profesor Robert Sibarani.
“Untuk jurnal Tradition and Modernity of Humanity yang dikelola oleh Lembaga Penelitian USU dengan penerbit TALENTA Publisher USU bertujuan untuk mendukung kinerja kelembagaan Universitas Sumatera Utara dalam bidang pengelolaan publikasi ilmiah dan untuk masuk pada dunia modernits dari kekayaan kearifan lokal yang ada di tradisi kita”, harap Profesor Robert Sibarani.










Sangat bagus gagasan Prof. Sibarani. Sangat setuju kita sebagai ilmuwan dan akademisi berdaulat keilmuan di bumi negara sendiri. Semoga cita-cita mulia untuk mewadahi gagasan, hasil penelitian para akademisi Indonesia dapat terwujud dan sukses. Kami prinsipnya siap untuk ikut berperanserta mengirimkan artikel, baik konseptual maupun hasil penelitian. Terima kasih