IPMINEWS.CO.ID
BUDAYA | Penutupan Kongres I Kebudayaan Batak Toba pada malam hari ketiga dimeriahkan oleh peragaan busana (fashion show) berbasis ulos dengan iringan musik tradisional sebelum kongres secara resmi ditutup. Keseluruhan acara penutupan diringi oleh musik tradisional Batak Toba dengan uninguningan dan lagu-lagu traditional Batak Toba yang dibawakan oleh grup ALUSTAIDA (Alumni USU Pecinta Budaya) yang dikoordinasikan oleh musisi tradisional Batak Toba Martahan Sahat Gembira Sitohang, S.Sn berkolaborasi dengan seniman lokal dari Kabupaten Humbang Hasundutan. “Penampilan musik tradisional Batak Toba pada malam penutupan Kongres I Kebudayaan Batak Toba benar-benar menghibur dan memukau para peserta kongres sehingga tidak terasa lagi rasa capek selama 3 hari mengikuti kongres yang sangat monumental ini, apalagi dengan peragaan busana berbahan ulos yang luar biasa ini”, demikian disampaikan oleh salah seorang peserta kongres. Penampilan musik tradisional ini juga mengiringi peragaan busana yang sangat menarik perhatian khususnya para perempuan yang telah menunggu-nunggu acara peragaan busana ini.
“Peragaan busana pertama yang sangat memukau para peserta kongres dan penonton lainnya adalah penampilan Alma Naibaho Fashion Show dari Jakarta. “Sesi pertama memeragakan baju-baju dengan tema the forties dari kain tenunan ulos ragi hotang, mangiring, dan sibolang, sedangkan sesi kedua memeragakan gaun pengantin memakai aplikasi kain tenunan ulos mangiring dan sadum, dilengkapi dengan topi berbentuk rumah adat Batak Toba yang terbuat dari kain tenunan ulos mangiring dan sadum. Kebaya sebagai baju nasional Indonesia dengan bawahan rok dari kain batik motif gorga Batak Toba dilengkapi dengan topi berbentuk rumah Batak dari ulos Batak dan batik motif gorga Batak Toba serta memakai sortali berbentuk segi tiga mengikuti siluet rumah adat Batak Toba”, demikian disampaikan Alma Naibaho, S.E, M.M sang perancang yang khusus datang untuk memeriahkan Kongres I Kebudayaan Batak Toba.
Perancang busana Louisa Sihombing dengan Lois Boutiquenya menampilkan busana kain tenun ulos tumtuman yang dia rancang menjadi pakaian modis, yang dirancang menjadi stelan dan dress. “Saya bangga menjadi perancang busana berbahan ulos sebagai kain tradisional dari Batak Toba dan bertekad untuk memajukan profesi ini lebih bagus lagi pada waktu mendatang”, demikian disampaikan Louisa Sihombing yang juga datang khusus dari Jakarta untuk memeriahkan Kongres I Kebudayaan Batak Toba.
Di samping ikut tampil sebagai model untuk memeragakan hasil rancangannya, Alma Naibaho, SE, MM juga dibantu oleh putrinya dan 4 orang model lokal yang tidak kalah hebatnya dengan model dari ibu kota. Model lokal yang sama juga digunakan oleh Louisa Sihombing untuk memeragakan hasil rancangannya.

Perancang busana Royana Marpaung, SE. dari Tim Koperasi Marsirimpa juga menampilkan rancangan busana dari ulos ragi hotang. Dia mengatakan, “Tema rancangan ini adalah Fashion Ulos Ragi Hotang dalam Keseharian, yang cocok dipakai para perempuan baik dari kalangan remaja maupun kalangan dewasa, dilengkapi dengan topi bulat, yang juga terbuat dari tenun ulos ragi hotang. Pada tampilan fashion kali ini, terlihat desain sederhana, tapi modis sehingga dapat dipakai untuk ke pesta, kantor, kuliah, dan aktivitas sehari-hari lainnya. Hal ini disampaikan untuk mengapresiasi para perempuan untuk berpenampilan menarik dengan mengutamakan keragaman budaya etnik dalam fashion sesuai dengan tema Kongres I Kebudayaan Batak Toba ini, yakni Mengukuhkan Identitas Budaya di Tengah Interaksi Global. Desain ulos menjadi busana sehari-hari mengajak semua perempuan Batak Toba untuk bangga menggunakan pakaian berbahan ulos dalam interaksi sosial di mana dan ke mana saja.”, demikian disampaikan sang perancang Royana Marpaung, SE yang di samping tampil sebagai model, juga tampil bersama para perempuan kreatif seperti Erniwati Siagian, Sondang Panjaitan, Eva Aritonang, dan Rusti Hutapea (Kadisbudpar Kabupaten Toba). Tim Koperasi Marsirimpa yang menampilkan peragaan busana ini diketuai oleh Dra. Debbie Riauni Panjaitan.

Setelah hiburan dan peragaan busana selesai, acara dilanjutkan dengan sesi penutupan. Sebelum secara resmi ditutup, Ketua Panitia Kongres I Kebudayaan Batak Toba mengatakan, “Pada sesi penutupan ini, saya atas nama panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berpartisipasi dalam penutupan kongres pada malam hari ini khususnya tim musik tradisional bersama ALUSTAIDA yang dikoordinasikan oleh Martahan Sitohang, perancang busama Alma Naibaho, Louisa Sihombing, Royana Marpaung, dan Tim Marsirimpa yang dikoordinasikan oleh Debbie Panjaitan”, demikian disampaikan oleh Ketua Panitia Kongres I Kebudayaan Batak Toba, Prof. Dr. Robert Sibarani, MS.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mewakili Bupati Kabupaten Toba menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia Kongres I Kebudayaan Batak Toba yang mempercayakan Balige, Kabupaten Toba, sebagai lokasi pelaksanaan kongres yang pertama dan sangat monumental ini. “Jika ada pelayanan kami yang kurang, dan pasti ada, kami meminta maaf dan semoga ke depan lebih baik lagi. Namun, satu hal yang penting dicatat bahwa pelaksanaan Kongres I Kebudayaan Batak Toba ini berjalan lancar sesuai dengan rencana, bahkan saya lihat melebih dari rencana yang ditargetkan. Untuk itulah, dengan mengucapkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan Maha Penyayang dan atas seizin kita semua, Kongres I Kebudayaan Batak Toba ini dengan resmi ditutup…..Horas….Horas….Horas”, ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rusti Hutapea yang mewakili Bupat Kabupten Toba. [RED 01]









