IPMINEWS.CO.ID
HUMANIORA | Sebelum menurunkan berita ini, tim redaksi membaca buku Marsirimpa: Kearifan Lokal Gotong Royong pada Masyarakat Batak Toba di Kawasan Danau Toba (2017), karangan Prof. Dr. Robert Sibarani, MS. Buku yang laris terbitan Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta ini telah mendapat HAKI (Hak Kekayaan Intelektual). Dalam buku ini, penulisnya menyatakan bahwa kata “marsirimpa” adalah kata Batak Toba yang hampir sama dengan kata “gotong royong” yang berasal dari bahasa Jawa. Dalam bukunya, dia menyebutkan ada 15 jenis marsirimpa dalam masyarakat Batak Toba, yang salah satu jenis marsirimpa yang terkenal adalah adalah marsiadapari ‘bergotong royong secara bergantian’ untuk mengerjakan atau mengolah lahan pertanian. Tim redaksi semakin ingin tahu karena penulis tidak hanya meneliti dan merumuskan secara ilmiah konsep marsirimpa dalam bukunya, tetapi dia sendiri menerapkan konsep marsirimpa itu dalam pembangunan penyelesaian Tugu Raja Sibarani ketika dia didaulat oleh tetua adat sebagai ketua pembangunan.


Ketika tim redaksi bertanya bagaimana proses pembangunan penyelesaian Tugu Raja Sibarani ini dilakukan dengan konsep marsirimpa “bergotong royong”, penulis buku marsirimpa ini mengatakan, “Konsep marsirimpa “bergotong royong” ini merupakan hasil penelitian saya di Kawsan Danau Toba selama beberapa tahun dan diterbitkan pada tahun 2017. Saya berkeyakinan bahwa kearifan lokal marsirimpa ini dapat diterapkan untuk pembangunan, khususnya pembanguan penyelesaian Tugu Raja Sibarani yang mangkrak selama kurang lebih 6 tahun. Dengan tiga konsep marsirimpa, yakni masitungkoltungkolan “saling mendukung”, masiurupan “saling menolong”, dan rampak mangula “saling bekerja sama”, penyelesaian tugu yang membutuhkan banyak biaya dapat dilakukan. Dengan demikian, langkah pertama dilakukan pada awal Agustus 2023, diadakan penyamaan persepsi dan sosialisasi dengan semua tokoh adat dan tokoh Masyarakat Sibarani di Bonapasogit “Kampung Halaman” dan ternyata semua tokoh ada dan tokoh masyrakat saling mendukung. Langkah kedua, kita membuat grup Whatsap (WA) yang mau memberikan tumpak “sumbangan” untuk pengumpulan dana pada tanggal 01 September 2023 dengan konsep satu sak semen pun bisa mengirim ke rekening yang telah ditentukan dan mengirimkan tanda transfer. Agar mendapat kepercayaan (trust) dari semua yang mau menyumbang, kemudian dibuka rekening atas nama Pembangunan Tugu di Bank Mandiri Balige sehingga lebih terkawal yang keluar, tidak boleh diambil oleh satu orang. Langkah ketiga, kita melakukan acara yang sakral, yakni acara Pasada Tahi “Menyatukan Tekad” oleh semua tetua adat baik yang di Bonapasogit maupun yang dating dari perantauan dengan penandatanganan nota kesepakatan pada tanggal 14 Oktober 2023 dengan dihadiri oleh ribuan marga Sibarani di Desa Sibarani Nasampulu, Kecamatan Laguboti, lokasi Tugu Raja Sibarani. Kita tetap mencari dukungan dari semua orang dan berbagai kumpulan Marga Sibarani baik yang dari kumpulan na marompuompu “satu moyang” maupun dari organisasi seperti Parsadaan Ompu Raja Sibarani seperti Porsib Toba, Porsib Siantar-Simalungun, Porsip Medan, Porsib Jabodetabek, Porsib Riau, dan Porsib Indonesia. Semua memberikan dukungan termasuk Formatur Porsib Indonesa melalui ketuanya Jonner Sibarani (Bapak Holmes). Langkah keempat, tukang mulai bekerja sejak tanggal 03 November 2023 hingga Tugu Raja Sibarani selsai pada tanggal 06 Juli 2024 serta diresmikan pada tanggal 12-13 Juli 2024. Puji Tujuan, setelah dihitung ulang uang yang terkumpul untuk pembangunan penyelesaian Tugu Raja Sibarani sejak tanggal 1 September 2023 hingga 13 Juli 2024 berjumlah Rp 1.962.512.861,00, sedangkan pengeluaran dari tanggal 03 November 2023 hingga 05 Agustus 2024 berjumlah Rp 1, 962.480,800.00”, demikian penjelasan Prof. Dr. Robert Sibarani, MS dengan memberikan daftar pemasukan dan pengeluaran di bawah ini.
Berikut ini nama-nama penyumbang dan jumlah sumbangan masing-masing sejak tanggal 01 September 2023 hingga 13 Juli 2024.











Berikut juga pengeluaran untuk penyelesaian Tugu Raja Sibarani sejak 03 November 2023 hingga 04 Agustus 2024.







“Inilah sekaligus laporan pertanggungjawaban keuangan Panitia Pembangun Penyelesaian Tugu Raja Sibarani kepada semua yang telah manumpahi “menyumbang” demi selesainya Tugu Raja Sibarani”, demikian disampaikan Ketua Pembangunan Tugu Raja Sibarani, yang sehari-harinya menjabat Ketua Lembaga Penelitian, Universitas Sumatera Utara.

Tim redaksi menanyakan kaidah marsirimpa agar dapat dipraktikkan oleh generasi muda. Dengan jelas disebutkannya, “sesuai dengan pengertiannya, marsirimpa membutuhkan kekompakan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan sehingga semua tim kerja mesti kompak dan bersama-sama meskipun tidak jarang ada perbedaan tempat”, imbunya mengakhiri pembicaraan.
Horas Tondi Madingin, Pir Todi Matogu.
Horas…Horas…Horas!







