IPMINEWS.CO.ID
BUDAYA | Dalam rangka pelaksanaan Kongres I Kebudayaan Batak Toba, Ketua Panitia Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S didampingi Sekretaris Panitia, Drs. Tigor Tampubolon melakukan audiensi dengan Dirjen Kebudayaan RI, Dr. Himar Farid. Turut hadir di sana Direktur Pemasaran BPODT, Wahyu Dito Galih Indharto dan Kadiv Pemasaran Mancanegara, Drs. Nelson Lumbantoruan, M.Hum., untuk memberikan dukungan.
Di kesempatan itu, Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S., selaku Ketua Panitia Kongres Kebudayaan Batak Toba menjelaskan bahwa pelaksanaan kongres dilakukan pada tanggal 20-22 Oktober 2022 di Balige, Kabupaten Toba, Kawasan Danau Toba. Dengan hasil yang diharapkan penyusunan dan penetapan Panduan Aksara Batak Toba, Panduan Ejaan Batak Toba, dan Tata Bahasa Batak Toba. “Di samping kita harapkan, Kongres Kebudayaan Batak Toba sebagai MICE akan melaksanakan pertemuan, pameran, dan atraksi baik di lokasi kongres maupun tour ke destinasi wisata sekitar Danau Toba”, harap Profesor Robert Sibarani yang merupakan mencetus kajian-kajian Antropolinguistik.

“Pada kongres itu juga, akan diadakan diskusi untuk menginventarisasi benda-benda budaya di luar negeri, sekaligus juga usaha untuk mendatangkan benda-benda budaya tersebut ke Kawasan Danau Toba”, ujar Robert Sibarani yang merupakan Profesor dibidang Antropolinguistik ini.
Pada pertemuan itu, Dr. Himar Farid selaku Dirjen Kebudayaan memberikan arahan-arahan untuk pelaksanaan Kongres I Kebudayaan Batak Toba tersebut. Disamping itu, beliau juga mengatakan sangat mendukung kegiatan kongres dengan harapan dapat membangun Kebudayaan Indonesia dari Kebudayaan Batak Toba. Kegiatan kongres ini diharapkannya dapat mempercepat Danau Toba sebagai Super Destinasi Wisata.
Ditambahkannya, beliau bersedia namanya dicantumkan sebagai pendukung Kongres Kebudayaan Batak Toba mendatang dan mengusulkan agar mengikutkan tokoh-tokoh Batak Toba yang berhasil baik diaspora di dalam maupun di luar negeri. Agar semua dapat mengikutinya, perlu dibuat dalam bentuk hybrid dan menghadirkan benda-benda budaya dalam bentuk digitalisasi.









